Said Aqil Siroj: Waspadai Krisis Komitmen Kebangsaan dan Merebaknya Virus Budaya : Okezone Nasional

JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Islam Nusantara Foundation, KH Said Aqil Siradj mengungkapkan fakta sejarah, bahwa para Founding Fathers telah bersepakat untuk membuat Negara Bangsa Indonesia yang Nasionalis-Religius (Bukan Nasionalis Sekuler model Michael Aflaq dan atau Negara Bangsa ala Ernas Renan).

“Para Founding Fathers membangun Negara Bangsa yang secara harmonis mampu memadukan antara Spirit Teologi dan Politik Kebangsaan, mengintegrasikan antara Nasionalisme dengan Iman, dan menselaraskan agama dan budaya. Para Founding Fathers telah berhasil menanamkan Harmoni Kehidupan yang Nasionalis-Religius. Maka kini dan seterusnya, Negara Bangsa yang Nasionalis-Religius wajib di jaga untuk selama lamanya,” tegas Said Aqil Siradj dalam Pidato Kebudayaan di Gedung Joeang 45, Jumat (11/8/2023).

Kyai Said yang juga Ketua Umum LPOI-LPOK menegaskan, Fardlu Ain hukumnya bagi setiap warga negara untuk menjaga Konsensus Bangsa Indonesia (Menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang Undang Dasar 1945).

“Maka siapa saja yang berusaha menyebarluaskan Ideologi dan atau bermaksud merongrong konsensus Bangsa Indonesia, dan mencoba coba membuat Negara Islam wajib diusir dari Indonesia,” beber mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Menyinggung soal implementasi Pancasila dalam Kehidupan Kemasyarakatan, Kebangsaan dan Kenegaraan Kiyai Said yang juga Anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) mengingatkan kehidupan beragama yang ramah damai dan toleran harus dijaga.

“Maka jangan biarkan benih benih radikalisme dan intoleransi berkembang menjadi terorisme dan ekstrimisme, kebhinnekaan harus dirawat, persatuan harus diperkokoh, perwusyawaratan harus dijalankan secara demokratis, jangan hanya menjadi topeng dan kedok kepentingan golongan tertentu semata, serta keadilan dan kemakmuran harus dimeratakan. Tidak boleh ada monopoli dan praktek oligarki yang merugikan negara dan memiskinkan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Baca Juga: Balkon Fest Gelaran Pesta Rakyat untuk Warga Wringinputih


Follow Berita Okezone di Google News


Baca Juga  GusIminProKeadilan link video twitter

Dalam pidatonya terkait letak geografis, keberadaan geoekonomi, dan geopolitik Indonesia yang berada pada titik silang dunia, Kyai Said Aqil yang juga Pengasuh Pesantren Al Tsaqofah mengingatkan pentingnya kewaspadaan akan keberadaan Indonesia pada posisi terbuka bagi dunia, yang sangat memungkinkan untuk di infiltrasi, dipengaruhi dan dijadikan pasar atau menjadi dimungkinkan untuk dijadikan tempat pembuangan sampah peradaban dari negara negara maju.

“Indonesia wajib menjadi Global Player dan menjadi titik keseimbangan dunia,” sambungnya.

Lalu, Buya Said Aqil yang Lulusan Universitas Ummul Quro Makkah Al Mukaromah ini mengatakan lebih luas memotret konstelasi global bahwa resesi global, krisis pangan dan krisis energi dunia, telah nyata dan di depan mata, ancaman perang asimetris (Asymmetric War) dan perang siber (Cyber War) semakin tak terhindarkan, di tengah kompetisi global antar Blok-Blok Ideologi, dalam merebut hegemoni politik, ekonomi, budaya, teknologi dan menguasai pasar global.

“Perdamaian menjadi barang yang sangat mahal untuk di perjuangkan. Oleh karenanya, Indonesia harus mampu memenangkan Perang Kebudayaan Pop (Pop Culture War), Perang Mata Uang (Digital, Currency), Perang Biologi (Biological War), Perang makanan, air dan Energi (Food, Water, and Energi War) dan Perang iklim dan bencana (Climate and Disaster War), yang tengah dan sedang terjadi,” tuturnya.

Ia pun mengingatkan soal kondisi kekinian dan fenomena politik nasional, yang sudah di depan Mata. Ia meminta pemerintah dan seluruh stakeholders bangsa harus siap melakukan mitigasi sosial menghadapi kemungkinan terjadinya turbulensi politik.

“Kewaspadaan dan kesiapsiagaan dini menghadapi kemungkinan rekayasa dan sekenario global, berkembangnya radikalisme dan intoleransi, serta berbagai penyesatan informasi dan adu domba antar pihak, harus dilakukan, agar Indonesia tetap Bersatu, berdaulat dan utuh selamanya. Penyelenggaraan Pemilu harus dikawal secara damai, demokratis, transparan, jujur, adil dan tanpa kekerasan,” kata Kiyai Said.

Terkait kualifikasi kepemimpinan dan calon pemimpin nasional, Kyai Said mengingatkan, warga harus cerdas, agar mampu melahirkan pemimpin bangsa yang memiliki kualifikasi unggul sesuai dengan Syuruthul Imam (Syarat Syarat Pemimpin).

Baca Juga  Duet Pingpong Bareng Cing Abdel, Wendy Walters Deg-degan

“Menurut fiqih: yakni berilmu dan berpengetahuan luas serta mendalam, bersikap adil, sederhana tidak rakus serta memihak kepentingan masyarakat luas, pemberani menghadapi resiko dan berstartegi dalam berdiplomasi, dan sehat lahir batin serta memiliki sifat peduli dan belas kasih pada masyarakat,” bebernya.

Kini, sambung Kiyai Said, saatnya warga bangsa segera melakukan konsolidasi nasional dan membangun kembali konsensus bersama, untuk merajut kesatuan dan persatuan bangsa, mengkonstruk strategi kebudayaan secara komperhenship, sehingga Bangsa Indonesia tidak kehilangan nilai dan jati dirinya.

“Identitas nasional harus diperkuat sembari terus memngembangkan kearifan lokal, yang mampu menopang keragaman. Virus virus budaya dan dekadensi moral harus segera di berantas,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, yang sekaligus Ketua Islam Nusantara Foundation, Helmy Faisal Zaini menyampaikan, bahwa pidato kebudayaan ini penting diselenggarakan yang dedikasikan sebagai bagian dari upaya untuk mencintai Indonesia, dengan cara membentangkan fakta sejarah, realitas kekinian dan membangun visi masa depan Indonesia.

“Agar seluruh stakholders bangsa bangun, bergerak dan merasa memiliki Indonesia serta mampu menjadi warga bangsa Indonesia, yang terlibat aktif dalam mencerdaskan bangsa, mengentaskan kemiskinanan, membangun kemakmuran dan kemandirian, menegakkan keadilan, menjunjung tinggi peradaban yang luhur serta mewujudkan peradaban yang gemilang,” kata Helmy.

Pria yang juga mantan Sekjen PBNU itu menyampaikan bahwa acara pidato kebudayaan dihadiri banyak tokoh dari semua unsur dan elemen masyarakat, organisasi-organisasi Islam dan organisasi organisasi keagamaan. Hadir dalam kesempatan ini, Gus Muhaimin Iskandar Wakil Ketua DPR RI dan Gus Miftah Maulana Habiburrahman dan banyak tokoh tokoh lainnya.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *